MATARAM, SASAK TIMES — Wajah gerakan kepemudaan di Nusa Tenggara Barat (NTB) dituntut untuk bertransformasi total. Hal ini menjadi sorotan utama dalam pembukaan Temu Karya Karang Taruna Provinsi NTB, di mana seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa Karang Taruna tidak boleh lagi terjebak pada kegiatan seremonial, apalagi sekadar menjadi “pekerja kasar” politik jelang pemilihan.
Acara yang dihadiri oleh jajaran Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) hingga Gubernur NTB, H. L. Muhammad Iqbal ini, menggemakan satu narasi besar: Kemandirian Ekonomi Pemuda.
Amanat Nasional: “Satu Pengusaha Lebih Baik dari Seratus Politisi”
Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT), Bahtiar Sebayang, memberikan teguran keras sekaligus motivasi bagi arah gerak Karang Taruna di NTB. Ia menegaskan bahwa organisasi kepemudaan berpelat merah ini harus tegak lurus menjadi mitra strategis pemerintah, khususnya dalam mengawal visi besar Presiden Prabowo Subianto.
”Indonesia saat ini berada di jalan yang tepat. Kita diuntungkan dengan kepemimpinan Presiden Prabowo yang berkonsentrasi penuh pada program kerakyatan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa (Kopdes), pendidikan gratis, hingga swasembada. Teman-teman di NTB harus tangkap peluang ini, perkuat narasinya, dan bantu Presiden,” tegas Bahtiar.
Ia meminta Karang Taruna untuk keluar dari zona nyaman yang hanya mengurus persoalan sosial karitatif. Menurutnya, pemuda harus mulai memikirkan lahirnya UMKM dan inkubator bisnis di tingkat desa. Ia mencontohkan peluang kolaborasi strategis dengan Kementerian Kelautan untuk pengelolaan sektor perikanan dan solar bagi nelayan.
”Karang Taruna harus menjadi pabrik pemimpin dan pengusaha. Jangan sampai pemuda kita hanya menjadi pemimpin seolah-olah. Ingat, satu pengusaha jauh lebih baik dampaknya daripada seratus politisi,” ujarnya tajam.
Bahtiar juga menitipkan harapan besar kepada Gubernur NTB dan Kepala Daerah di tingkat Kabupaten/Kota agar memosisikan Karang Taruna sebagai aset berharga dalam Musrenbang.
”Jangan lagi ada cerita Karang Taruna ini bagiannya hanya mengurus politik anggota DPR, disuruh pasang spanduk dan bangun tenda,” pungkasnya.
Gubernur NTB: Pemuda Harus Paham Seluk Beluk Dusunnya
Senada dengan arahan pusat, Gubernur NTB, H. L. Muhammad Iqbal, yang hadir sekaligus membuka acara tersebut, memilih memosisikan dirinya bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai orang tua yang berhadapan dengan masa depan daerahnya.
Gubernur Iqbal menyoroti pentingnya fondasi entrepreneurship di tengah cepatnya perkembangan dunia. Ia mengingatkan agar pemuda tidak menggunakan organisasi semata-mata sebagai batu loncatan kekuasaan.
”Jangan masuk organisasi hanya karena ingin menjadi anggota dewan. Pemuda itu harus mandiri secara sosial dan ekonomi,” tegas Gubernur.
Dalam konteks pembangunan daerah, Gubernur Iqbal juga menyinggung sektor pariwisata yang sedang menjadi primadona nasional dan internasional. Ia berpesan agar pemuda menjadi garda terdepan dalam menjaga kearifan dan nilai budaya lokal, agar NTB tidak kehilangan identitasnya di tengah derasnya arus investasi.
Terkait langkah konkret, Gubernur mengungkapkan program “Desa Berdaya” dalam visi NTB Makmur Mendunia. Ia menargetkan keterlibatan penuh anak-anak muda sebagai pendamping desa yang mampu merumuskan hingga mengurus infrastruktur sosial.
”Karang Taruna ke depan harus bisa mengambil peran ini, karena merekalah yang paling tahu dan paham seluk-beluk dusunnya masing-masing,” tutup Gubernur Iqbal.
Rapikan Barisan, Hadir di Tengah Masyarakat
Sementara itu, Pengurus Pusat Karang Taruna, Sabolah Al Kalambi, menitikberatkan pada perbaikan manajerial dan eksistensi organisasi. Ia membawa pesan khusus dari Ketua Umum agar Karang Taruna NTB segera merapikan database kepengurusan dari tingkat provinsi hingga akar rumput.
”Teman-teman Karang Taruna bukan hanya dituntut hadir pada kegiatan seremonial saja. Organisasi ini harus mampu hadir membantu masyarakat secara nyata. Dengan begitu, secara otomatis kita juga telah membantu tugas Bapak Gubernur di lapangan,” ujar Sabolah.
Temu Karya ini diharapkan tidak hanya menjadi forum silaturahmi, tetapi mampu menelurkan langkah-langkah konkret seperti pemetaan jumlah UMKM desa, kemunculan pemuda tani, dan peta jalan kemandirian ekonomi pemuda di seluruh penjuru Nusa Tenggara Barat.
(Red/Sasaktimes)