News

Memori Hangat di Banteng Keselet: Ketika Gema Maulid Menyisa Kenangan

14 September 2026
- Iklan / Advertorial -
[ Slot Iklan Atas Berita ]

PRINGGARATA, SASAK TINES – Suasana di Dusun Banteng Keselet tak lagi sama setelah gema shalawat mereda. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar warga beberapa waktu lalu telah usai, namun kehangatannya masih begitu terasa. Acara yang dipersiapkan jauh-jauh hari tersebut bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momen yang meninggalkan jejak kenangan mendalam bagi siapa saja yang terlibat.

Sejak tahap persiapan, Dusun Banteng Keselet sudah riuh oleh semangat gotong royong. Pengalaman bahu-membahu menyiapkan panggung, memasang dekorasi sederhana, hingga meracik hidangan khas menjadi cerita tersendiri. Di situlah proses pendekatan antarwarga dan teman-teman terjadi secara alami. Percakapan ringan di sela rasa lelah, canda tawa saat menata tempat, hingga saling lempar senyum ketika membagi tugas perlahan mengikis rasa canggung dan mempererat tali silaturahmi.

Pada malam puncak, lapangan dusun tampak begitu hidup. Lantunan shalawat membumbung tinggi, menyatu dengan keheningan malam dan kilauan lampu hias. Jamaah dari berbagai kalangan—tua, muda, hingga anak-anak—duduk berdampingan dalam kekhusyukan yang sama. Ada rasa haru yang menyelusup ketika meneladani kembali kisah perjuangan dan akhlak mulia Rasulullah SAW.

Kini, panggung telah dibongkar dan peralatan perayaan sudah dikembalikan ke tempatnya. Namun, kenangan manis di Dusun Banteng Keselet tidak ikut usai. Pengalaman berharga, hubungan pertemanan yang kian akrab, serta kebersamaan yang hangat menjadi oleh-oleh terbaik dari peringatan Maulid Nabi tahun ini. Acara boleh saja berlalu, tetapi rasa persaudaraan yang terpupuk malam itu akan terus hidup di tengah warga.

- Iklan / Sponsor -

Jejak Kebersamaan yang Tetap Menyala

Kehangatan itu tidak lantas menguap begitu panggung dirobohkan. Justru, hari-hari setelah perayaan menjadi pembuktian betapa Maulid Nabi kali ini memberi warna baru bagi kehidupan sehari-hari warga Dusun Banteng Keselet.

Anak-anak muda yang sebelumnya hanya saling sapa seadanya di jalan, kini punya bahan obrolan yang tak ada habisnya. Obrolan santai di pos ronda atau warung kopi dusun kerap kembali membahas momen-momen lucu selama persiapan—mulai dari panitia yang panik karena lampu gantung sempat mati, hingga momen saat hidangan penutup yang disiapkan habis lebih cepat dari dugaan. Pengalaman mengurus acara bersama berhasil mencairkan jarak yang selama ini ada, merajut ikatan pertemanan yang kini terasa jauh lebih dekat dan jujur.

Bagi generasi tua, melihat antusiasme pemuda-pemudi Banteng Keselet dalam menggerakkan acara ini mendatangkan rasa lega tersendiri. Ada rasa bangga bahwa tradisi memuliakan Rasulullah SAW terus terjaga, diwariskan dari tangan ke tangan dengan penuh rasa kasih. Momen makan bersama secara lesehan setelah doa penutup malam itu juga menjadi kenangan tersendiri—sebuah gambaran kesetaraan tempat semua warga merajut persaudaraan tanpa sekat.

Banteng Keselet kini telah kembali ke ritme utamanya yang tenang. Namun, jika menyusuri gang-gang dusun di petang hari, senyum antar tetangga terasa jauh lebih hangat. Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW memang telah resmi ditutup, tetapi nilai kebersamaan, kepedulian, dan keakraban yang tumbuh dari sana akan terus membekas sebagai memori indah yang menjaga kerukunan dusun untuk waktu yang lama.

- Iklan / Advertorial -