DENPASAR, Sasak Times — Pemerintah Republik Indonesia resmi memulai langkah bersejarah dalam penanganan krisis sampah di Bali melalui pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah Denpasar Raya. Dimulainya megaproyek ini ditandai dengan prosesi groundbreaking atau peletakan batu pertama oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, pada Senin (13/7).
Kehadiran fasilitas Waste-to-Energy (WtE) ini diharapkan tak sekadar menjadi solusi atas tumpukan darurat sampah darurat, melainkan juga menopang ketahanan lingkungan dan energi nasional secara berkelanjutan.
Menko Zulkifli Hasan menegaskan, proyek ini adalah wujud nyata dari Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 sekaligus tindak lanjut dari instruksi langsung Presiden RI Prabowo Subianto. Perpres tersebut bertujuan untuk mempercepat fasilitas pengolahan sampah lewat pemangkasan regulasi, percepatan perizinan, dan sinergi lintas sektor.
“Selama ini sebagian besar sampah masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Melalui pembangunan PSEL, kita tidak hanya mengurangi beban sampah yang menumpuk, tetapi juga mengubahnya menjadi sumber energi yang bernilai ekonomi. Ini merupakan langkah strategis mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan,” tegas Zulkifli.
Menurutnya, jika diakumulasikan secara nasional, proyek PSEL diproyeksikan mampu menangani hingga 22 persen persoalan sampah di seluruh Indonesia.
Kapasitas Masif dan Target Operasi
Dari segi kapasitas, PSEL Denpasar Raya dirancang untuk bekerja secara masif. Fasilitas ini ditargetkan mampu melahap dan mengolah 1.400 ton sampah per hari. Dengan estimasi masa konstruksi yang memakan waktu sekitar 18 bulan, pabrik energi ini diproyeksikan sudah mulai beroperasi penuh pada akhir tahun 2027.
Proyek di Denpasar Raya ini nantinya tidak hanya menjadi solusi jangka panjang bagi kawasan Bali, tetapi juga dipersiapkan menjadi purwarupa (role model) pengembangan fasilitas waste-to-energy di berbagai wilayah lain di Tanah Air.
Peran Krusial SUCOFINDO dalam Validasi Data
Di balik megahnya rencana infrastruktur ini, keakuratan data teknis menjadi fondasi utamanya. Dalam hal ini, PT SUCOFINDO (PERSERO) mengambil peran sangat vital melalui pelaksanaan Waste Analysis & Characterization (WAC) dan Land Investigation pada tahap persiapan.
Direktur Utama PT SUCOFINDO, Sandry Pasambuna, menjelaskan bahwa pada Program PSEL Batch 1 ini, pihaknya berkolaborasi langsung dengan PT Danantara Investment Management (DIM) untuk membedah karakteristik sampah di sejumlah wilayah aglomerasi prioritas, termasuk Bali.
“Di Bali, kajian dilakukan di TPA Suwung yang melayani Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, yang mana menjadi basis perencanaan proyek PSEL. Melalui WAC, SUCOFINDO melakukan pengukuran timbulan sampah harian, analisis komposisi, hingga pengujian nilai kalor, kadar air, dan kadar abu,” urai Sandry.
Sandry memastikan seluruh pengujian tersebut menggunakan metodologi dan standar yang diakui secara nasional maupun internasional, guna menjamin bahan baku (feedstock) pabrik PSEL benar-benar akurat. Keberhasilan analisis ini bahkan membuat SUCOFINDO kembali dipercaya memegang kendali analisis untuk Program PSEL Batch 2.
“Melalui kompetensi yang kami miliki, SUCOFINDO terus menghadirkan layanan berbasis sains, teknologi, dan data. Kami meyakini bahwa pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berbasis data adalah fondasi penting dalam mewujudkan ekonomi sirkular di Indonesia,” tambahnya.
Sinergi Lintas Sektor
Agenda groundbreaking strategis ini turut dihadiri jajaran petinggi negara, di antaranya Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Investasi/Kepala BKPM sekaligus CEO BPI Danantara, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Gubernur Bali I Wayan Koster, hingga para kepala daerah di wilayah Denpasar Raya.
Kehadiran lintas sektor ini menjadi simbol komitmen dan sinergi kuat dari pemerintah untuk segera mengurai benang kusut persoalan sampah, sekaligus menciptakan ketahanan energi nasional yang hijau demi masa depan yang lebih cerah.
(Redaksi Sasak Times)