LOMBOK TENGAH, Sasak Times — Di Gumi Tatas Tuhu Trasna, kopi bukanlah sekadar cairan hitam penahan kantuk. Ia adalah detak jantung diplomasi, saksi bisu dari setiap keputusan penting, dan jembatan yang menghubungkan berbagai kasta sosial. Dari atas berugak reyot di pelosok desa hingga di atas meja mahoni ruang ber-AC para pengambil kebijakan, secangkir kopi selalu hadir sebagai penengah.
Bagi masyarakat Sasak, tradisi ngopi adalah ruang demokrasi yang paling purba dan murni. Di warung-warung kecil pinggir jalan, seorang petani yang sedang kelelahan bisa duduk berdampingan dengan seorang aparatur desa, bertukar keluh kesah tentang hasil panen, infrastruktur, hingga harga pupuk tanpa ada sekat birokrasi.
Di ruang-ruang lobi politik kelas atas, kopi juga memainkan peran serupa. Ia menjadi pelumas ketegangan saat kepentingan-kepentingan besar saling berbenturan. Ketika lobi-lobi terasa buntu dan urat leher mulai menegang, tawaran sederhana, “Mari kita ngopi dulu,” sering kali menjadi sihir peneduh yang menurunkan ego masing-masing pihak.
Namun, ada satu hukum alam dari secangkir kopi yang tidak bisa diubah oleh siapa pun, baik oleh petani maupun politisi : Kejujuran rasanya.
Kopi mengajarkan kita tentang realitas yang telanjang. Seberapa banyak pun gula yang ditambahkan untuk menutupi keasliannya, seberapa mewah pun cangkir porselen yang digunakan untuk menyajikannya, esensi dasar kopi tetaplah meninggalkan jejak rasa pahit.
Filosofi ini sangat relevan dengan dinamika sosial masyarakat kita hari ini. Gula adalah metafora dari janji-janji manis, retorika indah, atau narasi-narasi peredam konflik yang sering kali disuguhkan ke tengah publik. Namun, realitas kehidupan di lapangan—mulai dari keringat warga yang mencari nafkah hingga debu jalanan yang harus dihirup setiap hari—adalah kepahitan yang tidak bisa dihapus hanya dengan janji manis semata.
Pada akhirnya, secangkir kopi menyatukan kita dalam satu pemahaman : bahwa realitas harus ditelan, diproses, dan diterima, sepahit apa pun itu. Ia tidak butuh kemunafikan, ia hanya butuh keikhlasan untuk dinikmati.
Malam ini, di mana pun Anda berada dan apa pun posisi Anda—apakah Anda seorang warga yang sedang gelisah menatap hari esok, atau seorang pejabat yang sedang merancang strategi—mari sejenak meletakkan ego. Seruput kopi Anda perlahan, dan biarkan kepahitannya mengingatkan kita bahwa kita semua berpijak di atas tanah Lombok Tengah yang sama.
Selamat ngopi, dan selamat merawat kewarasan.