JAKARTA – Kebutuhan mobilitas masyarakat yang tinggi, di tengah pertimbangan efisiensi anggaran, perlahan mengubah tren pasar otomotif nasional. Kendaraan bekas kini bukan lagi sekadar alternatif, melainkan pilihan rasional yang makin diminati.
Lonjakan minat ini terekam jelas dari data PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance). Hingga Februari 2026, perseroan mencatatkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan mobil bekas yang sangat signifikan, yakni meroket hingga 169,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Segmen kendaraan bekas ini kini tidak bisa dipandang sebelah mata, lantaran telah menyumbang 9,79 persen terhadap total portofolio pembiayaan perusahaan.
Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani (Dhani), menegaskan bahwa pergeseran tren ini merupakan bentuk rasionalitas konsumen.
“Mobil bekas kini semakin dipertimbangkan sebagai pilihan yang rasional bagi masyarakat. Selain menawarkan harga yang lebih kompetitif, kendaraan bekas juga tetap mampu menjawab kebutuhan mobilitas sehari-hari,” ujar Dhani, Rabu (10/6/2026).
Faktor Pemicu Ledakan Tren Mobil Bekas
Berdasarkan analisis pasar, setidaknya ada tiga faktor utama yang memicu tingginya daya tarik kendaraan bekas di mata masyarakat saat ini:
- Efisiensi Anggaran : Dinamika harga kendaraan baru membuat masyarakat mencari jalan tengah yang tidak menguras kantong namun tetap mendapatkan fungsi mobilitas yang maksimal.
- Ekosistem Digital yang Transparan : Kehadiran berbagai platform digital jual beli mobil menghilangkan stigma “membeli kucing dalam karung”. Konsumen kini lebih mudah membandingkan harga, mengecek riwayat kendaraan, hingga bertransaksi secara praktis.
- Koreksi Harga Berbagai Varian : Adanya penyesuaian harga pada sejumlah jenis kendaraan bekas, termasuk penetrasi kendaraan listrik (EV) bekas, membuka peluang bagi konsumen untuk mendapatkan mobil dengan nilai yang jauh lebih kompetitif.
Merespons potensi cerah ini, BRI Finance terus memperluas jaring kerja sama dengan dealer dan mitra penjual di berbagai wilayah. Akses layanan juga dipermudah melalui penyederhanaan proses pengajuan.
Kendati keran pembiayaan dibuka lebar, Dhani menegaskan bahwa perusahaan tetap memasang sabuk pengaman melalui prinsip kehati-hatian (prudent).
“Baik kendaraan baru maupun kendaraan bekas memiliki pasar dan karakteristik yang berbeda. Keduanya saling melengkapi. Kami terus memantau perkembangan pasar dan menjalankan strategi pembiayaan yang selektif dan analisa kredit yang ketat agar bisnis tetap bertumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” pungkasnya.
(Red/Sasaktimes)