BudayaDesaHukumPendidikan

Menjaga Marwah Sasak, Raker Perdana Lembaga Adat Pujut Teguhkan Janji Merawat Tradisi

27 Agustus 2026
Rapat Kerja Perdana Lembaga Adat dan Budaya Sasak Kecamatan Pujut: Sinergi tokoh adat dan pemuda dalam merumuskan peta jalan pelestarian kebudayaan.
- Iklan / Advertorial -
[ Slot Iklan Atas Berita ]

PUJUT, SASAK TIMES — Di tengah derasnya arus modernisasi yang menggerus nilai-nilai lokal, Lembaga Adat dan Budaya Sasak Kecamatan Pujut mengambil langkah bersejarah. Melalui Rapat Kerja (Raker) perdana yang digelar baru-baru ini, lembaga tersebut merapatkan barisan, menyatukan gagasan, dan membangun fondasi kokoh untuk memastikan adat serta budaya Sasak tetap bernapas panjang.

Bagi masyarakat Sasak, adat bukanlah sekadar artefak masa lalu atau rangkaian seremonial usang. Adat adalah nyawa, tata nilai, dan pedoman hidup yang diwariskan secara turun-temurun. Ia memuat pedoman luhur tentang bagaimana manusia menyeimbangkan hubungannya dengan sesama, alam semesta, dan Sang Pencipta.

Oleh karena itu, menjaga adat tidak bermakna menutup pintu terhadap kemajuan zaman. Sebaliknya, pelestarian ini adalah ikhtiar agar modernitas yang datang tidak mencabut masyarakat dari akar identitasnya.

Menghidupkan Kembali Filosofi Leluhur

Kekuatan utama kebudayaan Sasak terletak pada kedalaman filosofinya. Forum ini kembali mengingatkan pentingnya menginternalisasi nilai-nilai “patut, patuh, pacu, solah, soleh, Tatas, Tuhu, Trasne”. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi moral agar kemajuan zaman tidak menggerus adab dan tata krama.

- Iklan / Sponsor -

Selain itu, semangat komunal seperti “saling pesilak” (saling mengundang/menghargai) dan “saling peliwat” (saling membantu) harus terus dihidupkan sebagai modal sosial untuk merawat keharmonisan bermasyarakat di Lombok Tengah.

Sinergi dan Tantangan Regenerasi

Wakil Ketua Adat, Muh. Sapta Mulia, dalam arahannya menegaskan bahwa Raker ini adalah pijakan awal untuk merumuskan program yang terukur dan berdampak nyata.

“Rapat kerja ini menjadi dasar bagi kita untuk menyusun program yang benar-benar menyentuh kebutuhan adat dan budaya. Harapannya, lembaga adat mampu memperkuat kapasitasnya dan bersinergi dengan pemerintah serta seluruh unsur masyarakat,” tegas Muh. Sapta Mulia.

Menurutnya, ancaman terbesar kebudayaan hari ini adalah terputusnya rantai regenerasi. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton atau penerima warisan pasif. Mereka harus diposisikan sebagai agen yang memahami makna, nilai, dan filosofi adat agar estafet kebudayaan ini tidak terhenti.

Peta Jalan Pemajuan Kebudayaan

Guna menjawab tantangan tersebut, Lembaga Adat dan Budaya Sasak Kecamatan Pujut telah memetakan tiga fase program strategis :

  • Fase Jangka Pendek : Fokus pada konsolidasi kelembagaan, pendataan potensi budaya lokal, dan penyusunan kalender kegiatan adat secara sistematis.
  • Fase Jangka Menengah : Mendorong pembinaan generasi muda melalui pendidikan bahasa dan sejarah lokal, penguatan sanggar seni, serta membangun kemitraan strategis dengan institusi pendidikan dan pemerintah.
  • Fase Jangka Panjang : Menciptakan ekosistem pelestarian budaya yang berkelanjutan dan terdokumentasi dengan komprehensif, sehingga menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang.

Sebab, adat yang hanya dikenang kelak hanya akan menjadi sejarah yang bisu. Namun, adat yang terus dipelajari dan diamalkan akan abadi sebagai jalan kehidupan.

“Titian adat, titian budaya; jati diri harus tetap dijaga.” Semangat inilah yang kini menjadi kompas bagi Lembaga Adat dan Budaya Sasak Kecamatan Pujut untuk terus melangkah, memastikan warisan leluhur tidak padam ditelan zaman.

(Red/Sasaktimes)

- Iklan / Advertorial -