DesaPemerintahPolitik

Cetak Sejarah! Kholifaturrahman S.Sos Calon Kades Termuda Desa Sengkol

- Iklan / Advertorial -
[ Slot Iklan Atas Berita ]

SENGKOL, SASAK TIMES – Dinamika politik dan pembangunan di Desa Sengkol kini memasuki babak baru yang penuh antusiasme. Di tengah derasnya tuntutan akan regenerasi kepemimpinan di tingkat akar rumput, sebuah langkah berani diambil oleh sosok muda bernama Kholifaturrahman, S.Sos, yang secara resmi memantapkan diri untuk maju sebagai calon Kepala Desa Sengkol.

Di usianya yang baru menginjak 26 tahun, Kholifaturrahman bersiap mencetak sejarah. Kehadirannya mematahkan stigma lama dan menjadi simbol nyata bahwa tongkat kepemimpinan desa tidak semata-mata ditentukan oleh faktor usia, melainkan oleh kapasitas intelektual, keberanian, integritas, dan kesungguhan dalam mengabdi kepada masyarakat.

Modal Intelektual dan Visi Pemerintahan

Keberanian Kholifaturrahman untuk bertarung di panggung politik desa bukan tanpa landasan. Ia merupakan lulusan Strata 1 (S1) jurusan Pemikiran Politik Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Latar belakang akademik inilah yang menjadi amunisi intelektualnya dalam membedah tata kelola pemerintahan yang berorientasi pada kepentingan publik dan nilai-nilai keadilan sosial.

Dalam perspektif Rahman, regenerasi kepemimpinan adalah jantung dari proses demokratisasi di tingkat lokal. Desa Sengkol membutuhkan sosok nakhoda yang tidak hanya fasih membaca perubahan zaman, tetapi juga piawai menjembatani aspirasi masyarakat dengan potensi kearifan lokal yang telah ada.

- Iklan / Sponsor -

“Membangun desa bukan sekadar tentang membangun infrastruktur fisik berupa aspal atau beton. Lebih dari itu, kita harus membangun manusianya, memperkuat persatuan, membuka ruang partisipasi seluas-luasnya, serta memastikan setiap potensi desa dapat berkembang secara berkelanjutan,” tegas Kholifaturrahman dalam sebuah kesempatan.

Transformasi Digital dan Keterbukaan Publik

Langkah Rahman untuk turun gunung mencalonkan diri adalah bentuk penolakan bahwa generasi muda hanya pantas menjadi “objek” pembangunan. Ia membuktikan bahwa pemuda harus berani tampil sebagai “subjek” yang membawa gagasan dan kontribusi nyata.

Di era disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang melesat cepat, desa dituntut untuk beradaptasi. Kemampuan literasi digital yang melekat pada generasi muda dipadukan dengan perspektif akademis yang matang menjadikan Rahman memiliki peluang besar untuk mendorong transformasi birokrasi Desa Sengkol agar lebih terbuka, inovatif, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan warganya.

Membuktikan Kualitas, Bukan Sekadar Usia

Meski membawa semangat pembaruan, usia muda tentu menghadirkan tantangannya tersendiri. Namun, bagi Kholifaturrahman, di situlah kualitas dan mental kepemimpinannya akan diuji. Kepercayaan publik tidak bisa diraih hanya dengan bermodal ijazah atau usia muda, melainkan harus dibuktikan melalui kerja nyata, keteladanan, dan kepiawaian dalam merangkul seluruh elemen masyarakat mulai dari tokoh agama, tokoh adat, hingga kelompok marginal.

Kholifaturrahman, S.Sos hadir membawa pesan kuat bahwa regenerasi adalah sebuah keniscayaan. Anak muda tidak perlu menunggu punggung menua untuk mulai mengabdi.

Jika kelak mandat kepemimpinan itu dipercayakan kepadanya, langkah ini tidak hanya akan mencatat namanya sebagai Kades termuda, tetapi juga menjadi pembuktian bahwa generasi muda mampu memikul tanggung jawab besar secara dewasa dan demokratis. Sebab sejatinya, mencetak sejarah bukanlah sekadar menjadi yang paling muda, tetapi ketika keberanian dan ilmu pengetahuan mampu diabdikan sepenuhnya demi kemajuan dan kesejahteraan Desa Sengkol.

(Red/Sasaktimes)

- Iklan / Advertorial -