Oleh : Ketua Karang Taruna Beriuk Geger Desa Pagutan – Renaldi Febrian
Setiap kali pemilihan kepala desa tiba, suasana desa seperti berubah. Baliho mulai bertebaran. Nama calon mulai disebut di mana-mana. Janji mulai terdengar dari banyak arah. Orang mulai menentukan pilihan.
Tapi di tengah semua itu, ada satu hal yang kadang lebih ramai daripada pembicaraan tentang gagasan, visi, misi, dan program.
Uang
Siapa memberi berapa. Siapa mendapat apa. Siapa datang membawa rokok.
Sampai akhirnya muncul satu pertanyaan yang sebenarnya tidak enak untuk dijawab : Berapa harga sebuah suara?
Mungkin menyebutnya kejahatan politik terdengar terlalu keras. Mungkin juga terlalu sarkas. Tapi bagi saya, istilah itu muncul ketika pertarungan untuk menjadi pemimpin mulai kehilangan gagasan dan berubah menjadi pertarungan uang.
Apakah politik seperti ini yang kita harapkan? Apakah politik seperti ini yang ingin kita wariskan kepada anak-anak kita?
Kalau calon tidak lagi bertarung lewat gagasan, program, kemampuan, dan rekam jejak, tetapi lewat siapa yang lebih kuat mengeluarkan uang, lalu apa yang sebenarnya sedang kita ajarkan? Bahwa suara memang punya harga? Bahwa memilih pemimpin bisa ditukar dengan sesuatu yang kita terima hari ini?
Harga Sebuah Suara vs Masa Depan Delapan Tahun
Pada akhirnya, pertarungan yang seharusnya menentukan masa depan desa bisa menyempit menjadi satu lembar uang merah dan sebatang rokok. Padahal yang dipertaruhkan bukan barang yang habis hari itu.
Yang dipertaruhkan adalah delapan tahun.
Di sinilah saya mulai gelisah. Saya tidak ingin menyalahkan masyarakat begitu saja. Sebab saya tahu, tidak semua orang menerima karena tidak peduli dengan masa depan desa. Ada yang memang sedang membutuhkan uang. Ada kebutuhan rumah yang harus diselesaikan. Ada dapur yang harus tetap menyala. Ada perut yang memang sedang kosong.
Ada juga yang mungkin hanya menerima sebatang rokok. Bagi sebagian orang mungkin tidak berarti banyak. Tapi bagi orang lain, mungkin memang berarti.
Justru di situlah persoalannya menjadi rumit.
Di satu sisi ada orang yang takut kalah. Di sisi lain ada orang yang takut tidak makan.
Yang satu mengejar kemenangan. Yang satu sedang menghadapi kebutuhan hari ini. Keduanya bertemu dalam keadaan yang sebenarnya sama-sama tidak sehat. Lalu terbentuk semacam kesepakatan yang tidak pernah ditulis. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada meterai. Tapi semua orang mengerti : Uang hari ini, suara nanti.
Setelah Uang Habis, Apa Selanjutnya?
Kemudian pemilihan selesai. Ada yang menang. Ada yang kalah. Uang habis. Rokok habis.
Tetapi masa jabatan baru saja dimulai. Delapan tahun.
Delapan tahun bukan waktu yang sebentar. Ada pelayanan yang harus dijalankan. Ada anggaran yang harus dipertanggungjawabkan. Ada pembangunan yang harus dipikirkan. Ada anak muda yang membutuhkan ruang. Ada keluarga yang membutuhkan perhatian.
Dan masyarakat tetap punya hak untuk mengkritik, bahkan ketika pilihannya berbeda.
Yang membuat saya semakin khawatir adalah ketika pilihan politik berubah menjadi fanatisme. Kita mulai sulit melihat kekurangan calon yang kita dukung. Kritik dianggap serangan. Perbedaan pilihan berubah menjadi permusuhan.
Padahal kita sedang memilih kepala desa. Bukan memilih Tuhan.
Calon boleh punya kekurangan. Calon boleh dikritik. Bahkan calon memang harus ditanya tentang gagasannya, programnya, rekam jejaknya, dan bagaimana dia akan membawa desa selama masa jabatannya. Masyarakat berhak memilih siapa pun, tapi masyarakat juga berhak bertanya : Setelah uang yang diterima hari ini habis, apa yang akan kita dapatkan selama delapan tahun?
Jangan Hina Orang Miskinnya, Lawan Sistemnya
Saya tidak sepakat kalau kritik terhadap politik uang kemudian diarahkan kepada orang yang sedang lapar. Kalau yang ingin kita lawan adalah politik uang, kritiklah politik uangnya. Jangan hina orang miskinnya. Jangan jadikan kebutuhan hidup seseorang sebagai alasan untuk merasa lebih suci.
Sebab politik uang tidak jatuh begitu saja dari langit. Ia tumbuh karena ada yang memberi. Ia terus hidup karena ada yang menerima. Dan ia menjadi kebiasaan karena terlalu sering dianggap biasa.
Calon merasa uang adalah jalan menuju kemenangan. Masyarakat akhirnya merasa menerima uang adalah bagian dari pemilihan. Lama-lama semuanya dianggap wajar. Dan ketika sesuatu yang salah sudah terlalu sering dilakukan, kita mulai lupa bahwa itu memang salah.
Bukan hanya soal berapa rupiah yang berpindah tangan, tetapi tentang kebiasaan yang kita bangun setiap kali pemilihan datang. Sebab setelah semuanya selesai, yang dibawa pulang bukan lagi uang atau rokok. Yang dibawa pulang adalah seorang pemimpin.
Maka saya tidak terlalu tertarik bertanya siapa yang akan menang. Saya justru lebih takut bertanya : Apa yang akan terjadi setelah dia menang? Apakah delapan tahun berikutnya benar-benar akan menjadi masa perubahan? Atau kita hanya mengulang cara lama dengan wajah yang berbeda?
Kalau kita ingin desa berubah, mungkin cara kita memilih pemimpin juga harus mulai berubah. Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung apa yang kita dapat hari ini, sampai lupa menghitung apa yang mungkin kita bayar selama delapan tahun.
Sebab uang bisa habis. Rokok bisa habis. Hari pemilihan juga akan lewat. Tapi keputusan seorang pemimpin akan terus berjalan setelah semuanya selesai.
Yang satu takut kalah. Yang satu takut tidak makan. Dan di antara keduanya, jangan sampai Desa Pagutan menjadi pihak yang paling mahal membayar harganya.
(Disclaimer : Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Sasak Times)