Oleh : Redaksi Sasak Times – Mata dan Pena Rakyat
Jika kita membentangkan peta Kecamatan Batukliang, Desa Pagutan bukanlah sekadar titik koordinat administratif. Desa ini adalah sebuah miniatur raksasa ekonomi yang hidup dari keringat warganya sendiri. Denyut nadinya terasa di setiap sudut : mulai dari Dusun Pagutan dengan geliat UMKM harian yang tak pernah mati-dari sentra penjualan pakaian hingga kuliner lontong-hingga keunggulan kriya lokal di Dusun Tunjang, Genteng, dan Lendang Gocek yang sukses menembus pasar luar daerah, Bali, hingga ekspor ke mancanegara seperti Malaysia dan Singapura lewat komoditas atap alang-alang.
Secara ekonomi makro, Pagutan punya segalanya. Namun, ada paradoks besar yang selama ini mengganjal di ruang publik : ke mana arah pengelolaan aset desa, dan di mana kehadiran nyata bagi generasi mudanya?
Selama ini, upaya pembangunan fisik sering kali berjalan tanpa diiringi kepekaan manajerial yang matang. Lihat saja fakta-fakta kontras di lapangan :
- Ironi Wisata Lendang Gocek : Tanah Pecatu yang awalnya diproyeksikan sebagai pusat wisata desa justru berujung mangkrak, kini malah berdampingan dengan berdirinya bangunan Kantor Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
- Embung Tanpa Air di Sangkawati : Potensi Tanah Pecatu disulap menjadi wujud fisik embung sebagai cadangan air, namun ironisnya tidak ada saluran irigasi yang hidup untuk menghidupinya, menjadikannya infrastruktur seremonial yang minim fungsi agraris.
- Minimnya Partisipasi Pemuda : Di tengah potensi UMKM dan kerajinan ekspor yang berjalan mandiri tanpa sentuhan pembinaan terstruktur, para pemuda kerap hanya menjadi penonton di rumah sendiri.
Di sinilah letak persimpangan jalannya. Pertanyaan besarnya : Dari mana sebuah desa harus memulai pembangunannya? Dari manusianya, atau sekadar menggali aset fisiknya?
Momentum Pilkades : Menakar Empat Poros Kekuatan Pagutan
Kegelisahan tentang arah pembangunan ini menemukan panggung utamanya dalam konstelasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Pagutan. Dengan adanya pemangkasan Dana Desa (DD) dari pusat saat ini, Kades Pagutan ke depan tidak bisa lagi bekerja dengan pola rutinitas, duduk manis dan mengharapkan anggaran turun. Desa ini butuh pemimpin bermental “Pelobi Ulung” yang mampu membawa program dari kabupaten, provinsi, hingga pusat.
Baca Juga : Tahapan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak Lombok Tengah 2026
Hari ini, empat nama telah muncul ke permukaan, menawarkan rekam jejak dan faksi yang berbeda :
- Subandi (Petahana) : Memiliki keunggulan penguasaan medan dan keberlanjutan program. Ujian terbesarnya di mata publik adalah membuktikan efektivitas kepemimpinannya dalam menyelesaikan PR pengelolaan aset yang mangkrak dan merumuskan strategi fiskal di tengah pemangkasan anggaran.
- Ahmad Ramli (Demisioner Ketua BPD) : Berangkat dari lembaga pengawas, ia menguasai regulasi, tata kelola anggaran, dan ketertiban administratif yang menjadi fondasi tata pemerintahan desa yang bersih.
- Yusuf Hamdani (Kadus Lendang Buwuh & Ketua Forum Kadus) : Inilah representasi riil dari akar rumput. Sebagai pengelola wilayah lumbung pertanian Lendang Buwuh sekaligus komandan para kepala dusun, ia paling memahami denyut nadi dan masalah keseharian warga di level paling bawah.
- Zulkarnaen (Wartawan Suara NTB) : Sang kuda hitam yang membawa keunggulan literasi informasi, transparansi, serta jejaring relasi luas ke berbagai pemangku kebijakan luar untuk mendongkrak potensi desa.
Keempat tokoh ini bukan orang sembarangan, mereka mewakili eksekutif, regulasi, teritorial bawah, dan media.
Pertanyaan kini kembali kepada masyarakat Desa Pagutan. Siapa di antara keempat figur ini yang memiliki nyali, visi, dan kepekaan untuk mengurus aset mangkrak serta memberdayakan pemuda sebelum memoles alamnya?
Pagutan terlalu kaya untuk diurus dengan cara-cara yang biasa saja. Saatnya warga membuka mata dan menagih komitmen mereka.
(Red/Sasaktimes)