DesaPemerintahPolitik

Cetak Sejarah! Cuma Semparu dari 87 Desa, Kemas M. Assajazi,S.H Tampil Bawa Semangat Muda, Mengusung Jargon ‘MBG’

Kemas M. Assajazi, figur pemimpin muda yang maju mendobrak sejarah dalam kontestasi Pilkades Desa Semparu, Kabupaten Lombok Tengah.
- Iklan / Advertorial -
[ Slot Iklan Atas Berita ]

Bursa Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di 87 desa se-Kabupaten Lombok Tengah mencatat sebuah rekor sejarah baru. Menariknya, sejarah itu pecah di Desa Semparu, Kecamatan Kopang.

Dari total 87 desa yang sedang sibuk mencari sosok pemimpin, Semparu menjadi satu-satunya desa yang berani mendobrak tradisi dengan menampilkan figur anak muda. Ia adalah Kemas M. Assajazi. Di saat desa-desa lain masih berkutat dengan pertarungan tokoh-tokoh lama, Kemas hadir mengambil tanggung jawab demi memastikan lompatan kemajuan bagi desanya.

Kehadirannya bukan sekadar bermodal nekat atau darah muda. Kemas melangkah dengan sebuah “cetak biru” (rencana kerja) yang sangat membumi dan mudah dipahami oleh seluruh warga, yaitu MBG (Membangun Bersama Generasi).

Bagi masyarakat Semparu, MBG bukanlah janji politik yang muluk-muluk. Maknanya sangat sederhana namun menohok, Yang Muda Bergerak untuk bekerja keras, memeras keringat, dan berinovasi mengurus desa, sementara Yang Tua Merestui dengan doa, nasihat, dan kebijaksanaannya. Sebuah pembagian peran yang adil agar desa bisa berlari cepat mengejar ketertinggalan tanpa melupakan adat istiadat dan tata krama.

- Iklan / Sponsor -

Memimpin Berarti Menderita

Majunya Kemas Assajazi bukan didasari oleh syahwat kekuasaan apalagi coba-coba. Baginya, kepemimpinan adalah sebuah pengorbanan mutlak. Mengutip tokoh bangsa KH. Agus Salim, Kemas menegaskan filosofi hidupnya: “Pemimpin itu menderita.”

“Kalau kita masih makan enak, tidur nyenyak, jangan sebut diri kita pemimpin. Ketika seseorang telah disumpah menjadi pelayan masyarakat, maka tidak ada lagi keteraturan dalam hidup pribadinya. Ia harus siap kehilangan waktu tidur dan kenyamanan demi mengurus hajat hidup orang banyak di Semparu,” tegas Kemas.

Pilkades kali ini adalah ujian bagi kedewasaan masyarakat. Jika desa dipimpin oleh sosok yang visioner dan berpihak pada rakyat, kemajuan akan terasa nyata. Namun, jika yang lahir justru pemimpin hasil kompromi, desa hanya akan menjadi ladang kekuasaan, bukan ruang harapan.

Menyalakan Lilin Kemajuan dari Semparu

Seperti kata Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta: “Indonesia akan bercahaya bukan karena obor di Jakarta, tapi Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin yang ada di desa.”

Di tengah era gempuran teknologi dan perubahan zaman yang sangat cepat, desa butuh kecepatan. Sosok yang paling mampu beradaptasi dengan ritme cepat ini adalah kaum muda. Sejarah bangsa telah membuktikan bahwa pemuda selalu menjadi motor perubahan, mulai dari Sumpah Pemuda 1928 hingga proklamasi kemerdekaan. Semangat sejarah itulah yang kini dibawa Kemas ke ruang lingkup Desa Semparu. Ia tidak ingin semangat generasi muda patah hanya karena anggapan “masih kanak-kanak”.

Pesan Persatuan, Merawat Hutan Semparu

Meski tensi politik mulai menghangat, Kemas meletakkan etika sosial di atas segalanya. Baginya, perbedaan dukungan adalah drama lumrah dalam demokrasi. Namun setelah surat suara selesai dihitung, tidak ada lagi kubu-kubuan. Yang tersisa hanyalah tetangga dan saudara se-desa.

Setelah berkeliling menemui warga dari berbagai dusun dan lapisan, Kemas menyimpulkan spirit perjuangannya dalam satu pesan yang sangat mendalam :

“Satu pohon tidak pernah membentuk hutan, dan satu ranting tidak akan mampu menahan badai. Kita mungkin lahir dari akar yang berbeda, tetapi di tanah yang sama ini, kita bertumbuh untuk saling menopang. Kekuatan Desa Semparu bukan terletak pada seberapa keras kita bersuara sendiri-sendiri, melainkan pada seberapa erat kita bergandengan tangan saat diterpa angin perubahan.”

Semparu kini berada di persimpangan jalan. Akankah sejarah mencatat bahwa desa ini berani mengambil langkah besar bersama Sang Pendobrak Sejarah? Waktulah yang akan menjawab. Namun satu yang pasti, dengan gerakan pemuda dan restu para orang tua, kebangkitan Semparu tak lagi bisa dipandang sebelah mata.

Waktunya MBG, Muda Bergerak, Tua Merestui!

(Red/Sasaktimes)

- Iklan / Advertorial -