DesaPemerintahPolitik

Menakar Visi Yusuf Hamdani, Dari Menyelamatkan Aset Mangkrak Hingga Mendobrak Meja Birokrasi Pagutan

Yusuf Hamdani, bakal calon Kepala Desa Pagutan, memaparkan visinya untuk kemajuan desa menjelang Pilkades Pagutan 2026.
- Iklan / Advertorial -
[ Slot Iklan Atas Berita ]

BATUKLIANG – Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Pagutan 2026, suhu politik mulai menghangat. Di tengah riuhnya pergerakan tim sukses, Yusuf Hamdani, salah satu figur kuat bakal calon Kepala Desa Pagutan, tampil membawa gagasan segar yang menantang status quo tata kelola desa selama ini.

Dalam wawancara eksklusif bersama Sasak Times, Yusuf membedah persoalan krusial yang selama ini luput dari perhatian, mulai dari pemanfaatan aset desa yang terbengkalai, proteksi terhadap pelaku UMKM, hingga pentingnya perubahan gaya kepemimpinan di tingkat desa.

Sulap Aset Mangkrak Jadi Ruang UMKM dan Wisata Edukasi Yusuf menyoroti keberadaan aset-aset potensial desa yang hingga kini belum terkelola maksimal, seperti Embung Sangkawati dan kolam renang mangkrak di Klandur Lendang Gocek. Ia menilai, aset tersebut bukan sekadar dibiarkan, melainkan harus dihidupkan kembali sebagai urat nadi ekonomi warga.

“Embung Sangkawati selain menjadi cadangan air kemarau, harus ditata menjadi area publik yang nyaman, sekaligus memberi ruang pertumbuhan bagi UMKM sekitar. Sementara kolam renang mangkrak di Klandur sangat potensial dikelola menjadi Alun-alun Desa,” papar Yusuf.

- Iklan / Sponsor -

Lebih jauh, ia menawarkan visi pariwisata yang realistis. Bukan berorientasi pada pembangunan eksotis yang menguras anggaran, melainkan memaksimalkan potensi hamparan sawah dan aktivitas peternak sebagai destinasi ‘Wisata Edukasi Pertanian’ yang menyasar siswa sekolah dan laboratorium alam.

Proteksi Pengrajin dari Bayang-bayang Pemodal Luar Terkait sektor industri kreatif, Yusuf memberikan perhatian khusus pada pengrajin bambu dan atap alang-alang di Pagutan. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Desa (Pemdes) tidak boleh absen dalam melindungi pelaku UMKM lokal yang selama ini masih berada di bawah bayang-bayang pengusaha luar, khususnya dari Bali.

“Pemdes harus hadir menjadi jembatan ke instansi terkait. Ke depan, tata kelola dan proteksi sektor ini harus menjadi perhatian utama, bersinergi dengan sektor pertanian dan pelestarian lingkungan,” tegasnya.

Kritik Tajam, Kades Tidak Boleh Hanya Duduk di Balik Meja Berbekal rekam jejak pengabdian selama 20 tahun—10 tahun di Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan 10 tahun sebagai Kepala Dusun—Yusuf memahami betul seluk-beluk birokrasi dan lobi program. Di sinilah ia melontarkan pandangan menohok mengenai standar kepemimpinan seorang Kepala Desa.

“Posisi Kepala Desa bukan sekadar duduk asyik di belakang meja. Pemimpin desa harus berani menggedor pintu-pintu dinas, instansi, bahkan kementerian dan gedung DPR RI untuk menjemput program,” ungkapnya tajam, mengisyaratkan perlunya pemimpin yang agresif menjemput bola demi kemajuan Pagutan.

Pilkades sebagai Ajang Adu Gagasan Menutup perbincangannya, Yusuf berpesan kepada seluruh elemen masyarakat Pagutan untuk menjadikan kontestasi Pilkades 2026 sebagai ruang adu ide, bukan sekadar pertarungan logistik.

“Mari jadikan Pilkades sebagai media mengaktualisasi pemikiran, memperjuangkan segala keterbelakangan agar menjadi warisan (legacy) bagi generasi berikutnya. Cerna rekam jejak para calon demi terciptanya Pagutan yang Bersatu, Kreatif, dan Amanah,” pungkasnya.

(Red/Sasak Times)

- Iklan / Advertorial -