DesaPemerintahPolitik

Jargon ‘MBG’ Menggema di Semparu, Simbol Perjuangan Pemimpin Muda Kemas Muhamad Assajazi Resmi Daftarkan Diri

27 Agustus 2026
Momen Kemas Muhamad Assajazi diiringi ratusan warga dan gemuruh jargon MBG saat mendaftarkan diri sebagai Calon Kepala Desa Semparu.
- Iklan / Advertorial -
[ Slot Iklan Atas Berita ]

KOPANG, SASAK TIMES Gemuruh jargon perjuangan menggema di sudut-sudut Desa Semparu, Kecamatan Kopang, pada Rabu (26/08/2026). Diiringi oleh ratusan warga dari berbagai elemen, mulai dari tokoh masyarakat, kaum ibu-ibu, hingga barisan pemuda, dan tokoh muda Kemas Muhamad Assajazi secara resmi mendaftarkan diri sebagai Calon Kepala Desa Semparu.

Langkah tegap Kemas menuju sekretariat panitia pemilihan hari ini bukan sekadar prosesi administratif biasa. Pendaftarannya sekaligus mencetak rekor baru dalam bursa Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Lombok Tengah.

Dari total 87 desa yang tengah mencari sosok nakhoda baru, Semparu tampil mencolok sebagai satu-satunya desa yang berani mengusung figur anak muda di tengah dominasi tokoh-tokoh lama.

MBG : Bukti ‘Muda Bergerak, Tua Merestui’

- Iklan / Sponsor -

Dalam iring-iringan, jargon MBG (Membangun Bersama Generasi) terus diteriakkan oleh warga. Bagi masyarakat Semparu, MBG telah menjelma menjadi “rencana” yang sangat membumi.

Maknanya sederhana namun memiliki daya ledak yang kuat : Yang Muda Bergerak untuk bekerja keras, memeras keringat, dan berinovasi, sementara Yang Tua Merestui dengan doa dan kebijaksanaannya. Pembagian peran yang adil ini diyakini mampu membuat Desa Semparu berlari cepat mengejar ketertinggalan tanpa kehilangan akar tata krama.

“Memimpin Berarti Menderita” Sebelum berangkat, Kemas menyempatkan diri menyapa kerumunan massa. Di hadapan pendukungnya, ia menegaskan bahwa langkahnya bukan didasari oleh syahwat kekuasaan. Meminjam filosofi tokoh bangsa KH. Agus Salim, Kemas menyampaikan orasi yang menggugah.

“Kalau kita masih makan enak, tidur nyenyak, jangan sebut diri kita pemimpin. Ketika seseorang telah disumpah menjadi pelayan masyarakat, maka tidak ada lagi keteraturan dalam hidup pribadinya. Ia harus siap kehilangan waktu tidur dan kenyamanan demi mengurus hajat hidup orang banyak di Semparu,” tegasnya yang langsung disambut riuh tepuk tangan warga.

Kemas menyadari betul bahwa di era disrupsi teknologi ini, desa butuh kecepatan. Seperti pesan Mohammad Hatta, bahwa Indonesia akan bercahaya karena lilin-lilin di desa, Kemas siap menjadi lilin tersebut. Ia menolak anggapan bahwa pemuda “masih kanak-kanak”, karena sejarah selalu membuktikan bahwa pemuda adalah motor utama perubahan.

Pesan Persatuan dari Sang Pemimpin MBG

Menyadari tensi politik yang akan semakin menghangat ke depannya, Kemas menutup orasinya dengan sebuah pesan persatuan yang sangat mendalam untuk seluruh warga Desa Semparu.

“Satu pohon tidak pernah membentuk hutan, dan satu ranting tidak akan mampu menahan badai. Kita mungkin lahir dari akar yang berbeda, tetapi di tanah yang sama ini, kita bertumbuh untuk saling menopang. Kekuatan Desa Semparu bukan pada seberapa keras kita bersuara sendiri-sendiri, melainkan pada seberapa erat kita bergandengan tangan saat diterpa angin perubahan.”

Pendaftaran Kemas Muhamad Assajazi hari ini menempatkan Desa Semparu di persimpangan sejarah. Dengan barisan pemuda yang bergerak dan restu para tetua yang mengiringi, kebangkitan Semparu di bawah panji MBG kini tak lagi bisa dipandang sebelah mata.

(Red/Sasaktimes)

- Iklan / Advertorial -