LOMBOK TENGAH, SASAK TIMES – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) sejatinya bukan sekadar ajang sirkulasi elitis tingkat lokal, melainkan momentum krusial untuk menguji adu gagasan dan rancang bangun masa depan desa. Di Desa Aik Darek, wacana tata kelola pemerintahan yang modern dan inklusif mulai disuarakan dengan lugas oleh salah satu Bakal Calon Kepala Desa, Badrun Azhari, S.Pd.
Hadir dengan membawa manifesto politik bertajuk “Maju, Aman, dan Transparan”, Badrun menawarkan sebuah cetak biru (blueprint) pemerintahan yang terukur. Visi untuk “Mewujudkan Masyarakat Aik Darek yang Sejahtera, Rukun, dan Berkeadilan” tidak dibiarkan menggantung sebagai retorika, melainkan dibedah ke dalam enam misi strategis yang menyasar langsung pada akar persoalan birokrasi dan ekonomi desa.
Paradigma Keterbukaan Informasi dan Akuntabilitas Secara analitis, poin paling fundamental dari gagasan Badrun terletak pada komitmennya terhadap good governance atau tata kelola pemerintahan yang baik. Pada Misi pertama dan keenam, ia secara tegas meletakkan transparansi, kejujuran, dan ruang partisipasi publik sebagai fondasi utama.
Dalam lanskap birokrasi modern, pengelolaan dana desa dituntut memiliki akuntabilitas tingkat tinggi. Badrun menjawab tantangan ini dengan menjamin keterlibatan warga secara langsung, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga fungsi pengawasan. Pendekatan ini secara otomatis memangkas birokrasi yang tertutup, memastikan setiap rupiah anggaran desa tepat sasaran, dan mengembalikan kedaulatan pembangunan ke tangan rakyat.
Akselerasi Infrastruktur dan Resolusi Ekonomi Lokal Pembangunan fisik yang mangkrak atau tidak merata kerap menjadi anomali di berbagai daerah. Merespons hal tersebut, Misi kedua Badrun berfokus pada pembangunan infrastruktur yang tidak hanya merata, tetapi juga berdimensi keberlanjutan (sustainable) dan berbasis pada kebutuhan riil mobilitas masyarakat.
Namun, infrastruktur yang mumpuni harus diimbangi dengan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, melalui Misi ketiga, Badrun merancang skema kemandirian ekonomi. Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), optimalisasi sektor pertanian dan peternakan, serta dukungan terhadap pelaku usaha lokal menjadi instrumen utama untuk memutar roda ekonomi dari dalam desa itu sendiri.
Investasi SDM dan Kohesi Sosial Lebih dari sekadar angka pertumbuhan ekonomi, Badrun Azhari juga memberikan penekanan kuat pada pembangunan manusia. Melalui Misi keempat dan kelima, ia menyoroti urgensi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Langkah integratif yang ditawarkan mencakup penguatan sektor pendidikan, pelatihan keterampilan khusus, serta revitalisasi peran pemuda di tingkat desa. Pembangunan SDM ini kemudian dibingkai dalam upaya menjaga stabilitas lingkungan desa yang aman, harmonis, dan mengakar pada falsafah gotong royong.
Kehadiran sosok seperti Badrun Azhari, S.Pd., dalam kontestasi di Aik Darek memberikan alternatif kepemimpinan yang berpijak pada data, keterbukaan, dan pemberdayaan. Jika visi “Maju Desanya, Aman Warganya, Transparan Pemerintahannya” ini diimplementasikan secara konsisten, masyarakat Aik Darek memiliki pijakan yang rasional untuk menyongsong era kemandirian desa yang sesungguhnya.
(Red/Sasaktimes)